Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879. Ia lahir di tengah keluarga bangsawan Jawa yang kental dengan adat istiadat, sebagai putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang bupati Jepara, dan M.A. Ngasirah. Beruntung bagi Kartini, status sosial ayahnya membuat ia diizinkan bersekolah di Europese Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun. Di sekolah Belanda inilah Kartini belajar bahasa Belanda dengan sangat baik, sebuah keterampilan penting yang nantinya membuka jendela pemikirannya terhadap dunia luar yang jauh lebih luas dan modern. [1, 2, 3, 4, 5]
Namun, kebebasan itu seketika terenggut ketika Kartini menginjak usia remaja. Sesuai tradisi pingitan yang berlaku bagi gadis bangsawan kala itu, ia harus tinggal di dalam rumah dan tidak boleh lagi keluar ke dunia luar sampai ada pria yang datang meminangnya. Di dalam ruang pingitan yang sempit dan sunyi itulah, semangat Kartini justru menyala. Ia menghabiskan waktunya dengan membaca buku, surat kabar, dan majalah Eropa yang dikirimkan oleh teman-temannya. Kartini mulai melihat ketimpangan yang mendalam antara kehidupan perempuan Eropa yang bebas maju dengan perempuan pribumi yang terkekang, buta huruf, dan tidak memiliki suara dalam menentukan masa depannya sendiri. [1, 2, 3]
Untuk menyalurkan kegelisahan hatinya, Kartini mulai aktif menulis surat kepada sahabat-sahabat penanya di Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon. Dalam surat-surat berbahasa Belanda yang ditulisnya dengan sangat indah dan kritis, Kartini mencurahkan impiannya tentang emansipasi. Ia menggugat adat istiadat yang membelenggu perempuan, menolak praktik poligami yang dipaksakan, dan memperjuangkan hak mutlak bagi kaum wanita untuk mengenakan bangku pendidikan. Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar cara agar perempuan menjadi cerdas, melainkan fondasi utama agar mereka bisa menjadi ibu yang mampu mendidik generasi penerus bangsa dengan lebih baik. [1, 2, 3]
Masa pingitan Kartini berakhir ketika ia dinikahkan dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, pada November 1903. Beruntung, sang suami memahami visi besar istrinya dan memberikan dukungan penuh. Dengan izin suaminya, Kartini berhasil mewujudkan salah satu mimpi terbesarnya, yaitu mendirikan sekolah khusus wanita di kompleks kantor kabupaten Rembang. Di sekolah tersebut, ia mengajar anak-anak perempuan membaca, menulis, menjahit, dan keterampilan lainnya agar mereka mandiri. Sayangnya, perjuangan fisik Kartini harus terhenti sangat cepat. Beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya, Kartini wafat pada tanggal 17 September 1904 dalam usia yang masih sangat muda, 25 tahun. [1, 2, 3, 4, 5]
Meski raganya telah tiada, pemikiran Kartini tidak pernah mati. Beberapa tahun setelah kematiannya, J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini ke Eropa dan menerbitkannya menjadi sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang". Buku ini mengguncang pemikiran masyarakat kolonial dan menjadi pemantik semangat pergerakan nasional. Atas jasa-jasanya yang revolusioner, pemerintah Indonesia menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Nasional, dan hari kelahirannya, 21 April, diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Kartini untuk merayakan perjuangan emansipasi perempuan.