Artikel Literasi Oleh Rivan Sophana Fazri 25 Aug 2026

Biografi B.J. Habibie

Biografi B.J. Habibie
Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang akrab disapa Rudy, lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936 sebagai anak keempat dari delapan bersaudara. Dibesarkan dalam keluarga berpendidikan oleh pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo, Rudy kecil tumbuh menjadi anak yang sangat disiplin, gemar membaca, dan memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Namun, sebuah titik balik yang berat harus ia hadapi ketika menginjak usia 14 tahun. Sang ayah meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung saat sedang sujud dalam salat. Demi melanjutkan pendidikan anak-anaknya, sang ibu dengan gigih menjual rumah mereka di Parepare dan memboyong seluruh keluarga pindah ke Bandung.
Di Bandung, kecerdasan Rudy dalam ilmu eksakta dan fisika mulai menarik perhatian, terutama saat ia menempuh pendidikan di SMA Kristen Dago. Ketertarikannya pada bidang teknik membawanya masuk ke Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1954. Namun, masa kuliahnya di ITB hanya bertahan selama enam bulan karena sang ibu bertekad membiayai Rudy untuk melanjutkan studi ke Jerman Barat tanpa mengandalkan beasiswa negara. Di RWTH Aachen, Rudy berjuang keras menahan rindu dan keterbatasan biaya. Dedikasi itu berbuah manis saat ia berhasil meraih gelar Diplom-Ingenieur dengan predikat Cum Laude, lalu melanjutkan hingga meraih gelar Doktor-Ingenieur di bidang teknik penerbangan dengan predikat tertinggi, Summa Cum Laude, pada tahun 1965.
Kecerdasan langka yang dimilikinya membuat industri penerbangan Jerman terpikat. Rudy kemudian berkarier di perusahaan dirgantara terkemuka, Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) di Hamburg, hingga berhasil menduduki posisi prestisius sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi. Di sinilah ia menorehkan tinta emas dalam sejarah sains dunia lewat penemuan Crack Propagation Theory atau Teori Faktor Habibie. Rumus matematika buatannya mampu menghitung keretakan mikro pada badan pesawat secara akurat, sebuah penemuan revolusioner yang membuat penerbangan dunia menjadi jauh lebih aman dan memberinya julukan "Mr. Crack" dari komunitas internasional.
Meski telah memiliki karier mapan dan kehidupan nyaman di Eropa, panggilan jiwa untuk mengabdi pada tanah air tidak pernah padam. Pada tahun 1974, Presiden Soeharto memanggilnya pulang untuk membangun industri dalam negeri. Tanpa ragu, Habibie melepaskan segala kemewahan di Jerman. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi selama dua dekade. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia mendirikan berbagai industri strategis, termasuk Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Puncak mahakaryanya terjadi pada tahun 1995 ketika pesawat komersial N250 Gatotkaca berhasil terbang di langit Indonesia, membuktikan kepada dunia bahwa putra-putri bangsa mampu merancang teknologi tinggi secara mandiri.
Puncak perjalanan politik Habibie datang secara tak terduga di tengah badai krisis moneter dan gejolak reformasi. Setelah sempat diangkat menjadi Wakil Presiden pada Maret 1998, ia langsung dilantik menjadi Presiden Ketiga Republik Indonesia hanya dua bulan setelahnya, tepat ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri. Meskipun masa kepemimpinannya tergolong sangat singkat, yaitu hanya satu tahun empat bulan, Habibie berhasil melakukan reformasi krusial. Ia sukses menyelamatkan ekonomi Indonesia dari keterpurukan dengan menekan nilai tukar Rupiah dari belasan ribu hingga ke bawah Rp7.000 per Dolar AS. Ia juga membuka keran demokrasi yang selama ini tersumbat dengan menjamin kebebasan pers, membebaskan tahanan politik, dan menginisiasi undang-undang otonomi daerah. Langkah kepemimpinannya yang legawa juga terlihat saat laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR pasca-lepasnya Timor Timur melalui referendum, di mana ia memilih mundur dari bursa pencalonan presiden berikutnya demi menjaga stabilitas bangsa.
Di balik dinding karier dan politiknya yang luar biasa, hidup Habibie diwarnai oleh kisah cinta legendaris bersama istrinya, Hasri Ainun Besari. Menikah pada tahun 1962 dan dikaruniai dua putra, Ilham dan Thareq, Ainun adalah jangkar dan kekuatan terbesar dalam hidup Habibie. Kehilangan Ainun yang wafat akibat kanker pada tahun 2010 menjadi pukulan batin yang teramat berat, yang kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku memoar yang menyentuh hati jutaan masyarakat Indonesia. Sembilan tahun setelah kepergian belahan jiwanya, tepatnya pada 11 September 2019, Sang Bapak Teknologi Indonesia mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada usia 83 tahun. Jasadnya dimakamkan dengan penghormatan militer tertinggi di Taman Makam Pahlawan Kalibata, berdampingan dengan makam Ibu Ainun, menyatukan kembali cinta sejati mereka untuk selamanya.
Berita Terbaru
Bill Gates
Bill Gates
25 Aug 2026
Steve Jobs
Steve Jobs
25 Aug 2026
Alan Turing
Alan Turing
25 Aug 2026
R.A. Kartini
R.A. Kartini
25 Aug 2026